PEKANBARU –ARGOTERKINI.COM– Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Aliansi Mahasiswa Pecinta Unilak (GAMPU) menggelar aksi unjuk rasa damai di lingkungan Universitas Lancang Kuning (Unilak), Riau, pada Rabu (6/5/2026) sore. Aksi ini menyoroti sejumlah isu krusial, mulai dari transparansi pengelolaan anggaran hingga upaya menjaga citra institusi dari informasi negatif di ruang publik.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa menekankan pentingnya akuntabilitas birokrasi kampus sebagai bentuk tanggung jawab moral terhadap civitas akademika. Perwakilan massa menyampaikan bahwa kehadiran mereka merupakan upaya menjaga marwah universitas melalui jalur dialog yang santun dan intelektual.
Tiga Poin Aspirasi
Ada tiga poin utama yang menjadi fokus tuntutan mahasiswa dalam aksi kali ini:
1. Transparansi Kebijakan: Mahasiswa mendesak pihak rektorat untuk memberikan penjelasan terbuka mengenai alokasi anggaran pembangunan, rincian biaya wisuda, serta kebijakan terkait Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP).
2. Objektivitas Penyelesaian Masalah: Mendorong pimpinan universitas untuk segera menyelesaikan berbagai persoalan internal secara tepat, bijaksana, dan sesuai dengan regulasi yang berlaku.
3. Proteksi Nama Baik Institusi: Meminta kampus mengambil langkah hukum maupun komunikatif yang nyata guna membendung isu-isu liar di media yang dapat merusak reputasi Unilak di mata masyarakat.
Tanggapan Rektorat
Massa aksi ditemui langsung oleh Wakil Rektor III Unilak, Dr. Hardi, SE., MM. Dalam pertemuan tersebut, Hardi menyatakan bahwa pihak rektorat menyambut baik masukan dari mahasiswa dan berkomitmen untuk menindaklanjuti poin-poin aspirasi tersebut secara serius.
“Pihak institusi berkomitmen untuk segera menyelesaikan persoalan yang menjadi perhatian mahasiswa, termasuk melakukan upaya nyata untuk membersihkan nama baik universitas dari berbagai isu liar yang berkembang,” ujar Hardi di hadapan massa aksi.
Independensi Gerakan
Jenderal Lapangan GAMPU, Munawar Harahap, menegaskan bahwa aksi ini merupakan “Aksi Jilid Pertama” yang murni lahir dari keresahan mahasiswa secara independen. Ia membantah adanya intervensi dari pihak luar dalam gerakan tersebut.
“Ini adalah gerakan murni mahasiswa yang peduli terhadap kampus, bukan titipan dari pihak mana pun. Kami ingin membangun ruang dialog yang sehat demi kebaikan bersama,” tegas Munawar.
Selain itu, Munawar mengklarifikasi bahwa segala bentuk pernyataan atau kutipan yang mengatasnamakan dirinya di luar rilis resmi GAMPU merupakan informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini disampaikan untuk menghindari distorsi informasi yang dapat mengaburkan substansi perjuangan mahasiswa.
Aksi yang berakhir pada sore hari tersebut berlangsung kondusif. Mahasiswa berharap komitmen yang disampaikan pihak rektorat tidak sekadar menjadi janji lisan, melainkan segera diwujudkan dalam langkah-langkah konkret di masa mendatang.










