PEKANBARU | ARGOTERKINI.COM– Generasi hari ini mungkin tak banyak yang tahu, bahwa di jantung Kota Pekanbaru pernah berdiri sebuah stadion legendaris yang menjadi pusat denyut euforia sepak bola masyarakat. Stadion Hang Tuah, demikian namanya, pernah menjadi saksi ribuan sorak penonton yang memadati tribun setiap pertandingan.
Stadion ini bukan sekadar lapangan, melainkan tempat di mana mimpi para pemain PSPS Pekanbaru dibesarkan. Dengan kapasitas sekitar 5.000 penonton, setiap laga selalu hidup, dipenuhi semangat, harapan, dan kebanggaan warga kota terhadap tim kebanggaan mereka.
Berlokasi di kawasan strategis yang kini dikenal dengan Masjid Raya An-Nur, stadion ini dulunya berdiri sebelum kawasan tersebut berkembang menjadi ikon religi yang megah seperti saat ini. Di tempat itulah, euforia sepak bola Pekanbaru pernah berdenyut begitu kuat, menyatukan masyarakat tanpa sekat.
Namun, seiring berjalannya waktu, perubahan tak terelakkan. Pada tahun 2000, Stadion Hang Tuah diratakan. Keputusan itu bukan karena dilupakan, melainkan bagian dari langkah besar pembangunan kawasan masjid dan ruang publik yang lebih luas bagi masyarakat.
Meski fisiknya telah tiada, nama dan kenangannya tidak pernah benar-benar hilang. Stadion Hang Tuah tetap hidup dalam ingatan kolektif warga Pekanbaru—menjadi simbol nostalgia, kebanggaan, dan sejarah panjang olahraga di daerah ini.
Kini, nama Hang Tuah kembali dihidupkan sebagai pengingat bahwa sejarah tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berubah bentuk, tinggal dalam cerita, dan terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Bagi mereka yang pernah hidup di era itu, datang ke stadion bukan sekadar menonton pertandingan. Lebih dari itu, mereka sedang menjadi bagian dari sejarah yang tak tergantikan.










