PEKANBARU – ARGOTERKINI-COM– Ninik Mamak Pemangku Adat Kenegerian Koto Aman Kecamatan Tapung Hilir Kabupaten Kampar melirik Lembaga Laskar Melayu Riau (LLMB), Gerakan Mengembalikan Kedaulatan Rakyat (GMKR) dan Gerakan Masyarakat Adat Melayu Riau (GEMA Melayu Riau) sebagai tempat mengadu masalah konflik lahan yang sedang mereka alami selama belasan tahun.
Konflik lahan tentang tanah ulayat yang dijadikan perkebunan kelapa sawit oleh korporasi hingga saat ini belum menunaikan kewajiban HGU (Hak Guna Usaha) harus memberikan perhatian pembangunan untuk masyarakat Desa Koto Aman.
Hal tersebut terungkap dalam surat permohonan audiensi yang ditujukan Ninik Mamak Koto Aman ke tiga perkumpulan Tokoh Pergerakan masyarakat adat melayu Riau.
Surat tersebut ditandatangani oleh Ninik Mamak Empat Suku di Koto Aman, diantaranya Darussalam Datuk Majolelo Suku melayu, Akmal Datuk Mangkuto Laksamano Suku chaniago, Mukhlis Datuk Penghulu Bosagh suku piliang, Dawam Datuk Majo Indo suku pitopang, Joni Saputra, S.Pd selalu Ketua BPD Koto Aman, dan Abdul Aziz sebagai Ketua LPM Koto Aman.
Menanggapi persoalan yang dihadapi masyarakat adat Koto Aman tersebut, Sekretaris Jenderal (Sekjen) GEMA Melayu Riau, Datuk Firman Edy, SE akui menerima pengaduan tersebut dan akan segera ditindaklanjuti ke pimpinan tiga lembaga.
“Dalam waktu dekat, kami akan segera undang masyarakat adat Koto Aman untuk memulai perjuangan hak-hak masyarakat adat di tangan owner korporasi-korporasi di wilayah Desa Koto Aman”, Kata Firman Edi kepada Argoterkini.com, Jumat (23/10/2026) di Pekanbaru.
Firman Edi menegaskan agar pihak korporasi kooperatif terhadap masyarakat adat di sekitar perkebunan mereka.
“Kami bersama LLMB dan GMKR, kelompok sivil society perjuangan masyarakat adat Melayu Riau akan terus mengawasi tindak-tanduk korporasi. Korporasi yang peduli masyarakat adat, kita dukung”, Tegas Firman Edi.
Akhir keterangan, Firman Edi memberikan ultimatum untuk korporasi harus empati kepada masyarakat adat Melayu Riau.
“Masyarakat adat Melayu Riau punya untuk maju dan berkembang. Bukan owner korporasi saja yang ingin berkembang”, Pungkas Firman Edi. (Baim R394R)





















