PEKANBARU- ARGOTERKINI-COM- Ketika galodo menerjang Arosuka, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, pada Senin malam (21/9/2026), yang datang bukan sekadar air, lumpur, batu dan kayu. Bencana itu juga membawa duka bagi masyarakat yang kehilangan rasa aman di tengah rumah dan lingkungan tempat mereka menjalani kehidupan.
Musibah banjir bandang atau galodo yang terjadi sekitar pukul 20.00 WIB tersebut dilaporkan membawa material lumpur, batu, kayu serta longsoran yang berdampak terhadap permukiman warga dan sejumlah fasilitas pemerintahan di kawasan Arosuka.
Kabar duka tersebut turut menggugah kepedulian Yayasan Tanjak Bertuah Riau. Dari Riau, rasa prihatin dan doa dipanjatkan untuk masyarakat Kabupaten Solok, khususnya warga yang terdampak langsung oleh bencana.
Ketua Yayasan Tanjak Bertuah Riau, Andi Champay, menyampaikan rasa duka mendalam sekaligus mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama mendoakan keselamatan warga yang sedang menghadapi musibah.
“Kami dari Yayasan Tanjak Bertuah Riau turut berduka dan prihatin atas musibah galodo yang melanda Arosuka, Kabupaten Solok. Bagi kami, ini bukan sekadar kabar bencana dari kejauhan. Ini adalah duka kemanusiaan yang mengetuk hati kita semua. Semoga masyarakat yang terdampak diberikan perlindungan, kekuatan dan ketabahan,” ujar Andi Champay.
Ia juga mendoakan agar seluruh proses evakuasi, pencarian, penanganan korban dan pemulihan dapat berjalan dengan lancar serta seluruh petugas dan relawan yang berada di lapangan senantiasa diberikan keselamatan.
“Di saat saudara-saudara kita sedang menghadapi musibah, jangan biarkan mereka merasa sendiri. Doa, kepedulian dan solidaritas adalah kekuatan yang bisa kita hadirkan dari mana pun kita berada,” tegasnya.
Senada, Sekretaris Yayasan Tanjak Bertuah Riau, Fredi Adinata, mengatakan bahwa bencana seharusnya tidak hanya dilihat sebagai sebuah peristiwa alam, tetapi juga sebagai panggilan untuk memperkuat rasa kemanusiaan dan kepedulian antarsesama.
“Ketika saudara-saudara kita di Arosuka dan Solok sedang berjuang menghadapi musibah, yang paling penting adalah memastikan bahwa mereka tidak merasa sendirian. Doa mungkin tidak dapat menghapus luka, tetapi doa menunjukkan bahwa masih ada hati yang peduli dan tangan-tangan yang siap membantu,” kata Fredi.
Menurutnya, masyarakat terdampak membutuhkan dukungan bersama, baik secara moral maupun melalui berbagai bentuk bantuan yang dibutuhkan dalam proses penanganan bencana hingga tahap pemulihan.
“Kami berharap seluruh pihak yang berada di lapangan diberikan kekuatan dan keselamatan. Semoga warga yang terluka segera mendapatkan kesembuhan, keluarga yang kehilangan diberi ketabahan, dan seluruh masyarakat terdampak diberikan kekuatan untuk melewati masa sulit ini,” ujarnya.
Fredi menambahkan, solidaritas tidak mengenal batas wilayah.
Bagi Yayasan Tanjak Bertuah Riau, jarak geografis tidak boleh menjadi jarak kemanusiaan. Ketika saudara sebangsa dan sesama anak negeri tertimpa musibah, kepedulian harus hadir melampaui batas provinsi, daerah maupun latar belakang.
Terlebih bagi masyarakat Riau dan perantauan Minang, musibah yang terjadi di Ranah Minang menjadi pengingat bahwa hubungan persaudaraan tidak pernah putus hanya karena dipisahkan jarak.
Duka Arosuka adalah duka kemanusiaan.Duka Solok adalah duka kita bersama.
Yayasan Tanjak Bertuah Riau mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menundukkan hati, memanjatkan doa dan, sesuai kemampuan masing-masing, memberikan dukungan bagi masyarakat yang terdampak bencana.
Pray for Arosuka.Pray for Solok.
Semoga Allah SWT memberikan perlindungan kepada seluruh masyarakat yang terdampak, memberikan kesembuhan bagi mereka yang terluka, menguatkan keluarga yang sedang menghadapi musibah, serta memberikan keselamatan kepada petugas, relawan dan seluruh pihak yang terlibat dalam proses evakuasi, penanganan hingga pemulihan pascabencana.
Yayasan Tanjak Bertuah Riau
“Marwah Dijunjung, Negeri Tersanjung.”





















