BUKITTINGGI – ARGOTERKINI-COM- Silaturahim menjadi ruang untuk mempertemukan hati, pikiran, tradisi, dan nilai-nilai keagamaan. Semangat itulah yang tercermin dalam pertemuan Pendiri Silat Tuah Sakti, Rajo Alam Tubagus Datuk Pesisir Ahmad Abdari, bersama jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Bukittinggi yang dipimpin Buya H. Marfendi Dt. Basa Balimo, selaku Rais Syuriah sekaligus guru silek.
Pertemuan tersebut tidak sekadar menjadi ajang bertukar gagasan, tetapi juga menjadi momentum memperkuat jalinan antara tradisi silek, nilai keislaman, dan semangat persaudaraan dalam kehidupan masyarakat.
Rajo Alam Tubagus Datuk Pesisir Ahmad Abdari menegaskan bahwa silat pada hakikatnya bukan hanya tentang kemampuan bela diri, melainkan tentang bagaimana manusia membangun hubungan dengan sesama.
“SILAT adalah Kalamullah, artinya jalinan. Ar-Rahim berarti Maha Penyayang. Maka Silat Ar-Rahim atau Silaturahim adalah jalinan untuk saling menyayangi.”
Sebagai Pendiri Silat Tuah Sakti sekaligus bagian dari DPH LAMR Kecamatan Lima Puluh Kota Pekanbaru, Ahmad Abdari memandang silek sebagai bagian dari warisan nilai yang tidak hanya perlu dilestarikan gerakannya, tetapi juga dijaga ruh, adab, dan filosofi yang terkandung di dalamnya.
Filosofi tersebut menempatkan silek bukan semata sebagai seni gerak dan ketangkasan, tetapi sebagai warisan nilai yang mengajarkan adab, pengendalian diri, penghormatan, persaudaraan, serta kasih sayang.
Pesan tersebut menempatkan silaturahim bukan sekadar pertemuan seremonial, tetapi sebagai kekuatan sosial untuk merawat hubungan antarmanusia.
Silek yang kehilangan adab akan kehilangan ruhnya. Tradisi yang kehilangan nilai akan kehilangan arah. Dan kekuatan yang tidak dibarengi kasih sayang dapat berubah menjadi kesombongan.
Karena itu, keberadaan para Tuo-Tuo Silek Minangkabawi memiliki posisi penting dalam menjaga kesinambungan tradisi. Mereka bukan hanya pewaris gerakan, tetapi juga penjaga nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dalam pertemuan itu, hadir pula semangat pelestarian tradisi melalui keterlibatan Perisai Minang dan Himpunan Tuo-Tuo Silek Minangkabawi. Keberadaan para tuo silek menjadi bagian penting dalam menjaga agar silek tetap tumbuh sebagai warisan budaya yang memiliki akar filosofi dan nilai moral yang kuat.
Nilai tersebut sejalan dengan pesan QS. Al-Hujurat ayat 13, bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal.
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa keberagaman bukan alasan untuk berjarak, melainkan jalan untuk saling mengenal, menghormati, dan memperkuat persaudaraan.
Silek mengajarkan kekuatan, tetapi kekuatan harus dikendalikan oleh adab. Silek mengajarkan keberanian, tetapi keberanian harus berjalan bersama kasih sayang. Dan silek mengajarkan pertahanan diri, tetapi pada akhirnya manusia tetap harus mampu menjaga hubungan baik dengan sesama.
Silaturahim antara pendiri Silat Tuah Sakti, PCNU Kota Bukittinggi, para guru silek, dan tokoh-tokoh tradisi Minangkabawi tersebut menjadi pesan bahwa warisan budaya dan nilai agama tidak harus berjalan sendiri-sendiri. Keduanya dapat bertemu dalam satu ruang: membangun manusia yang kuat raganya, santun lisannya, teguh adatnya, dan mulia akhlaknya.
Sebab pada akhirnya, silek bukan tentang siapa yang paling kuat menjatuhkan lawan, tetapi siapa yang mampu menaklukkan ego dalam dirinya sendiri.
Silaturahim adalah kekuatan.Adab adalah kehormatan.Silek adalah warisan.Dan persaudaraan adalah tujuan.
Penulis: Andi Champay





















