PEKANBARU – ARGOTERKINI-COM- Peta jalan kemandirian energi nasional dibahas dalam diskusi publik Barisan Muda Riau (BMR) bertajuk “Sawit, Energi, dan Ekonomi Hijau” di Waroeng Steak, Pekanbaru, Senin (26/10/2026).
Saat ini sekitar 61 persen kebutuhan bensin nasional masih dipenuhi impor. Pemerintah menjawabnya dengan pengembangan bioetanol E20 secara bertahap menuju target swasembada bensin pada 2029, memperluas sumber pasokan, serta membangun 10 kilang modular dan enam tangki penyimpanan baru untuk memperkuat cadangan BBM yang sebelumnya hanya 21–28 hari.
“Bangsa yang besar tidak boleh selamanya menggantungkan tangki bensinnya pada negara lain. Target swasembada 2029 adalah keberanian untuk berdiri di atas kaki sendiri,” ungkap Aktivis Pemuda Riau, Jimmy Saputra Nasution, S.Pd.
Diskusi ini juga menghadirkan pengamat politik sekaligus dosen Universitas Lancang Kuning, Dr. Dody Sukma, R.A., S.Hut., M.Si., sebagai narasumber yang memberikan pandangan dari perspektif akademik.
Moderator diskusi, Septiandi Putra, S.E., M.M., menambahkan, “Kemandirian energi bukan pekerjaan satu malam. Yang penting, arahnya sudah jelas dan langkahnya sudah dimulai.”
Dalam sesi tanya jawab, peserta bernama Ilham mempertanyakan apakah target swasembada bensin 2029 realistis. Menanggapi hal itu, Jimmy menjelaskan, “Targetnya ditempuh bertahap dengan peta jalan yang jelas, mulai dari E20 sampai penambahan kilang. Kuncinya konsistensi dari tahun ke tahun, dan di situlah publik perlu ikut mengawal.”
Pertanyaan berikutnya datang dari Agus, yang menanyakan soal peningkatan kualitas BBM bagi masyarakat. “Dengan selesainya RDMP Balikpapan, kualitas BBM kita bergerak dari standar EURO 2 menuju EURO 5. Artinya BBM lebih bersih, mesin lebih awet, dan udara lebih sehat,” jawab Jimmy.
Di akhir acara, Barisan Muda Riau bersama elemen mahasiswa, pemuda, dan masyarakat yang hadir membacakan deklarasi bersama. Mereka menyatakan sikap melawan disinformasi, fitnah, dan kebencian (DFK), serta siap menjaga persatuan Indonesia.(RS)





















