Oleh: Ali Topan, Praktisi Pendidikan Muda di Pekanbaru
Di tengah tekanan ekonomi yang terus dirasakan masyarakat, Iduladha tahun ini datang dengan suasana yang berbeda. Harga kebutuhan pokok masih tinggi, daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih, sementara persoalan ekonomi global ikut memberi dampak hingga ke daerah-daerah. Namun di tengah situasi itu, masyarakat Indonesia tetap menunjukkan satu hal yang tidak berubah: semangat berbagi dan kepedulian sosial.
Di Riau, khususnya Pekanbaru, suasana menjelang Iduladha selalu menghadirkan wajah kebersamaan yang khas. Masjid, musala, hingga lingkungan masyarakat bergerak bersama mempersiapkan pelaksanaan kurban. Di tengah kondisi ekonomi yang tidak mudah, banyak warga tetap berusaha mengambil bagian dalam ibadah kurban, baik sebagai pekurban maupun sebagai panitia yang membantu proses distribusi kepada masyarakat.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kurban bukan sekadar ritual tahunan, tetapi juga simbol kekuatan sosial masyarakat Indonesia. Saat tekanan ekonomi membuat banyak orang harus lebih berhitung dalam memenuhi kebutuhan hidup, semangat berbagi justru tetap tumbuh. Nilai inilah yang menjadi kekuatan bangsa di tengah berbagai tantangan zaman.
Iduladha mengajarkan bahwa kehidupan tidak hanya diukur dari kemampuan ekonomi semata. Ada nilai keikhlasan, kepedulian, dan pengorbanan yang jauh lebih penting dalam menjaga harmoni sosial. Ketika sebagian masyarakat sedang menghadapi kesulitan hidup, kehadiran daging kurban bagi banyak keluarga bukan hanya soal makanan, tetapi juga tentang perhatian dan rasa bahwa mereka tidak sendiri.
Di Pekanbaru, tradisi gotong royong dalam pelaksanaan kurban masih terasa kuat. Anak muda, tokoh masyarakat, hingga para orang tua terlibat bersama dalam proses penyembelihan dan pembagian daging kurban. Aktivitas ini bukan hanya mempererat hubungan sosial, tetapi juga menjadi pendidikan nilai kemanusiaan bagi generasi muda.
Di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis, semangat kurban menjadi pengingat bahwa masyarakat Indonesia sejak dahulu dibangun di atas budaya kebersamaan. Kurban mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari seberapa banyak yang dimiliki, tetapi dari seberapa besar manfaat yang bisa diberikan kepada orang lain.
Karena itu, Iduladha seharusnya tidak hanya dipahami sebagai perayaan keagamaan semata. Momentum ini perlu menjadi refleksi bersama bahwa bangsa ini membutuhkan lebih banyak kepedulian sosial. Indonesia tidak hanya memerlukan pembangunan ekonomi, tetapi juga pembangunan empati antarsesama.
Riau dan Pekanbaru memiliki modal sosial yang kuat untuk menjaga nilai tersebut. Tradisi berbagi, gotong royong, dan kepedulian masyarakat adalah kekayaan yang harus terus dirawat di tengah perubahan zaman. Sebab krisis terbesar sebenarnya bukan hanya persoalan ekonomi, melainkan ketika manusia mulai kehilangan rasa peduli terhadap sesamanya.
Iduladha akhirnya mengingatkan kita bahwa pengorbanan bukanlah kehilangan, melainkan jalan untuk memuliakan manusia. Dan di tengah keadaan yang serba sulit hari ini, kepedulian sosial jangan sampai menjadi sesuatu yang langka di negeri sendiri.










