JAKARTA – ARGOTERKINI-COM- Peringatan Hari Sumpah Pemuda bukan sekadar mengenang ikrar bersejarah 28 Oktober 1928. Lebih dari itu, momentum ini menjadi pengingat bahwa masa depan bangsa berada di tangan generasi muda yang berani berpikir, bergerak, dan mengambil peran nyata dalam menjawab tantangan zaman.
Ketua Bidang Pertanian DPP PROJO, Sony Silaban, menegaskan bahwa semangat Sumpah Pemuda harus terus dihidupkan melalui kerja nyata, persatuan, dan kontribusi konkret bagi kemajuan Indonesia.
Menurutnya, pemuda Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton di tengah perubahan zaman. Generasi muda harus tampil sebagai penggerak pembangunan, termasuk dalam memperkuat sektor pertanian yang menjadi salah satu fondasi penting ketahanan pangan nasional.
“Sumpah Pemuda mengajarkan kita bahwa perbedaan bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk bersatu. Hari ini, semangat itu harus kita buktikan melalui karya, pengabdian, dan keberanian mengambil tanggung jawab demi masa depan Indonesia,” ucap Sony Silaban, Rabu, (28/10/2026).
Dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan, keterlibatan generasi muda menjadi semakin penting. Pertanian membutuhkan tenaga muda yang kreatif, inovatif, serta mampu memanfaatkan perkembangan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani.
Pertanian tidak boleh lagi dipandang sebagai sektor yang tertinggal atau pekerjaan yang tidak menjanjikan masa depan. Sebaliknya, sektor ini harus menjadi ruang bagi generasi muda untuk berinovasi, membangun usaha, membuka lapangan kerja, dan menciptakan nilai tambah bagi perekonomian bangsa.
Sony Silaban diharapkan mendorong tumbuhnya kesadaran bahwa regenerasi petani merupakan bagian penting dari pembangunan pertanian berkelanjutan. Tanpa keterlibatan anak muda, keberlangsungan sektor pertanian dan upaya menjaga kedaulatan pangan akan menghadapi tantangan yang semakin besar.
Semangat Sumpah Pemuda, menurut pesan yang ingin ditegaskan dalam momentum ini, harus diterjemahkan menjadi keberanian untuk turun ke lapangan, mendengar persoalan petani, memperjuangkan akses terhadap teknologi, serta membuka peluang bagi anak muda untuk terlibat langsung dalam rantai produksi dan distribusi pangan.
Sumpah Pemuda 1928 menjadi bukti bahwa kekuatan bangsa lahir dari kesediaan untuk menempatkan kepentingan Indonesia di atas perbedaan suku, agama, bahasa, dan golongan.
Kini, tantangannya berbeda, tetapi semangatnya tetap sama. Generasi muda dituntut untuk menjaga persatuan, melawan sikap apatis, serta membangun budaya kerja yang berorientasi pada kepentingan masyarakat.
Bagi Sony Silaban, momentum Hari Sumpah Pemuda dapat menjadi pengingat bahwa nasionalisme tidak cukup hanya diucapkan melalui slogan. Nasionalisme harus hadir dalam tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat, memperkuat ekonomi rakyat, dan menjaga masa depan bangsa.
“Pemuda jangan hanya mewarisi semangat perjuangan para pendahulu, tetapi juga harus berani melanjutkan perjuangan itu dengan cara yang relevan dengan zamannya. Jika dahulu pemuda bersatu untuk memperjuangkan kemerdekaan, hari ini pemuda harus bersatu untuk membangun Indonesia yang mandiri, berdaulat pangan, dan sejahtera,” ujarnya.
Peringatan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober hendaknya tidak berhenti pada upacara, seremoni, dan rangkaian kata-kata. Momentum ini harus menjadi titik tolak untuk memperkuat komitmen generasi muda dalam menjawab persoalan bangsa.
Dari desa hingga perkotaan, dari lahan pertanian hingga pusat-pusat inovasi, pemuda memiliki kesempatan untuk mengambil bagian dalam pembangunan Indonesia.
Semangat satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa harus terus hidup dalam setiap langkah pengabdian.
Sebab, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh apa yang diwariskan generasi terdahulu, tetapi juga oleh apa yang berani dikerjakan generasi hari ini.
Sumpah Pemuda adalah warisan sejarah. Membangun Indonesia adalah tanggung jawab bersama.***





















